Rupiah Tembus Rp18.003: Outlook Negatif Moody’s Pacu Capital Flight

Ilustrasi Dollar

garudaglobal.net — Kurs rupiah terdepresiasi ke level psikologis baru Rp18.003 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Bloomberg, Kamis, 4 Juni 2026 pukul 09.05 WIB. Penurunan kumulatif sebesar 6,6% secara year-to-date ini menempatkan mata uang Indonesia sebagai salah satu yang terlemah di Asia.

Sentimen negatif pasar memburuk setelah lembaga pemeringkat internasional Moody’s dan Fitch Ratings memangkas outlook kredit Indonesia menjadi negatif. Langkah ini memicu aksi jual masif di pasar Surat Berharga Negara dengan aliran modal keluar mencapai Rp19,47 triliun.

Fitch Ratings dalam laporan terbarunya memperingatkan adanya konflik mandat yang dihadapi Bank Indonesia antara menjaga stabilitas kurs atau mendukung pertumbuhan. Lembaga tersebut memproyeksikan BI Rate berpotensi dipangkas dua kali hingga level 4,25% pada akhir tahun 2026.

Proyeksi pelonggaran moneter di tengah tekanan eksternal ini dinilai mempercepat pembusukan nilai tukar di pasar forward. Imbasnya, biaya lindung nilai investasi meroket dan menekan daya tarik portofolio keuangan domestik bagi korporasi multinasional.

Gubernur BI Perry Warjiyo memberikan konfirmasi mengenai tingginya tekanan likuiditas valas dalam rapat kerja DPR pada Senin, 19 Mei 2026. “Jangan kaget, turun sekitar 10 miliar dollar AS. Tapi jumlah intervensi ini baru spot, baru tunai,” papar Perry terkait penurunan cadangan devisa.

Baca Juga :  Pasar Energi Global Berguncang, Brent Bertahan di Level US$100

Penyusutan cadangan devisa ke level USD146,2 miliar membatasi ruang intervensi bank sentral menghadapi volatilitas Juni. Tekanan ini berisiko menaikkan harga bahan baku impor bagi industri manufaktur, obat-obatan, dan perangkat elektronik dalam negeri. ***

By Chandra