garudaglobal.net – Pemilihan kawasan Kota Tua Jakarta sebagai lokasi syuting film internasional yang dibintangi Lisa BLACKPINK menandai langkah strategis Jakarta dalam menguatkan posisinya sebagai kota sinema di kawasan Asia. Kehadiran produksi film global ini tidak hanya berdimensi hiburan, tetapi juga mempertegas arah kebijakan kota menuju pusat industri audiovisual internasional.
Film berjudul Extraction: Tygo tersebut menggunakan sejumlah sudut Kota Tua sebagai latar cerita. Dengan dukungan infrastruktur kota, perizinan terintegrasi, serta koordinasi lintas lembaga, Jakarta menunjukkan kesiapan menjadi tuan rumah bagi produksi film skala besar.
Momentum ini dipandang sebagai bagian dari agenda jangka panjang pengembangan Jakarta sebagai kota sinema.
Jakarta dan Strategi Menjadi Kota Sinema
Konsep kota sinema tidak hanya merujuk pada lokasi syuting, tetapi pada ekosistem lengkap yang mendukung industri film: mulai dari kemudahan perizinan, keamanan lokasi, logistik, hingga keterlibatan komunitas lokal.
Kota Tua dipilih karena memiliki nilai visual, historis, dan fleksibilitas artistik yang tinggi. Dengan penataan kawasan dan manajemen ruang yang terkoordinasi, Jakarta mampu memenuhi standar produksi internasional tanpa kehilangan karakter kotanya.
Langkah ini sejalan dengan upaya Jakarta untuk menarik lebih banyak proyek film global ke Indonesia.
Peran Jakarta Experience Board
Jakarta Experience Board (JXB) menjadi penghubung utama antara pemerintah daerah dan rumah produksi internasional. JXB berperan dalam fasilitasi lokasi, koordinasi lintas instansi, serta memastikan proses produksi berjalan sesuai regulasi lokal.
Melalui model ini, Jakarta tidak hanya menawarkan lokasi, tetapi juga sistem pendukung yang profesional dan kompetitif di tingkat global.
Dampak Global dan Citra Kota
Syuting film yang melibatkan figur global seperti Lisa BLACKPINK memberikan eksposur internasional bagi Jakarta. Visual Kota Tua yang tampil dalam film berpotensi membentuk persepsi baru tentang Jakarta sebagai kota yang ramah industri kreatif dan terbuka terhadap kolaborasi global.
Bagi pemerintah daerah, ini merupakan bentuk diplomasi budaya visual yang efektif. Film menjadi medium promosi kota yang menjangkau audiens lintas negara tanpa pendekatan konvensional.
Kota Tua sebagai Etalase Jakarta
Pemanfaatan Kota Tua sebagai lokasi film internasional juga menegaskan fungsi kawasan tersebut sebagai etalase identitas Jakarta. Ruang bersejarah ini tidak hanya dilestarikan, tetapi dihidupkan kembali melalui narasi global.
Dengan demikian, agenda kota sinema Jakarta tidak hanya berbicara soal ekonomi kreatif, tetapi juga tentang bagaimana kota menampilkan dirinya di panggung dunia.
