garudaglobal.net — Kinerja sektor transportasi di gerbang barat Pulau bali menghadapi tekanan hebat setelah antrean kendaraan menuju Pelabuhan Gilimanuk dilaporkan menembus angka 37 kilometer pada Minggu, 15 Maret 2026.
Kondisi ini merupakan konsekuensi logis dari pertemuan dua beban puncak, yakni arus mudik Lebaran dan percepatan pengiriman logistik sebelum operasional pelabuhan dihentikan total selama perayaan Hari Raya Nyepi.
Data operasional menunjukkan adanya kenaikan volume kendaraan roda dua hingga 32 persen, yang secara sistematis menguras kapasitas tampung area penyangga dan kantong parkir di otoritas pelabuhan.
Tekanan Operasional pada Otoritas Penyeberangan
Manajemen PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) harus melakukan penyesuaian strategi secara instan dengan mengalihkan pola operasi normal ke mode darurat demi menjaga kelangsungan arus barang dan penumpang.
Corporate Secretary PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), Windy Andale, menyatakan pada Minggu (15/3/2026) bahwa penambahan armada menjadi langkah wajib untuk mengimbangi lonjakan permintaan jasa penyeberangan.
“Saat ini, sebanyak 35 kapal dioperasikan secara nonstop selama 24 jam untuk melayani arus kendaraan dan penumpang dari Bali menuju Jawa,” jelas Windy Andale dalam pernyataan resminya.
Langkah taktis ini dibarengi dengan penerapan skema Tiba Bongkar Berangkat (TBB) di dermaga tertentu guna memaksimalkan siklus sandar kapal yang terhambat oleh antrean panjang di jalur darat.
Dampak Ekonomi dan Risiko Manajemen
Kemacetan yang berdurasi hingga lebih dari 14 jam ini tidak hanya menghambat mobilitas personal, namun juga meningkatkan biaya operasional bagi sektor angkutan logistik yang terjebak di jalur utama Jembrana.
Kabid Humas Polda Bali, Kombes Pol Ariasandy, mengonfirmasi pada Minggu (15/3/2026) bahwa seluruh infrastruktur pendukung di pelabuhan telah mencapai titik jenuh akibat volume kendaraan yang tidak terbendung.
“Situasi di pintu keluar Bali melalui Pelabuhan Gilimanuk pada Minggu pukul 12.00 Wita terpantau mengalami peningkatan signifikan,” tegas Kombes Pol Ariasandy saat meninjau titik kritis kepadatan.
Pihak keamanan terus berupaya melakukan rekayasa lalu lintas dengan sistem penyekatan untuk mencegah total gridlock yang dapat melumpuhkan distribusi kebutuhan pokok ke wilayah Jawa Timur dan sekitarnya. ***
