GarudaGlobal.net – Uwi merupakan salah satu komoditas pangan tertua yang pernah berperan dalam jaringan perdagangan Asia. Berasal dari tanah Jawa, umbi ini kini justru lebih menonjol sebagai pangan strategis di Afrika dan Asia Timur.
Sejak era Dinasti Liao hingga Dinasti Ming, uwi tercatat diperdagangkan lintas wilayah. Selat Malaka menjadi jalur distribusi utama, menghubungkan produsen dan konsumen di Asia.
Di Indonesia, perubahan preferensi konsumsi ke beras membuat uwi kehilangan peran. Budidaya menurun dan pengetahuan agronomis ikut memudar.
Model Budidaya Asia Timur
China, khususnya Provinsi Yunnan, mempertahankan uwi melalui sistem pertanian berkelanjutan. Teknik pencetakan umbi dan pengaturan masa panen dilakukan untuk menjaga kualitas dan ukuran.
Pendekatan ini menempatkan uwi sebagai komoditas bernilai ekonomi, bukan sekadar pangan subsisten.
Ketergantungan Impor
FAO mencatat Indonesia sebagai salah satu pengimpor gandum terbesar dunia. Pada 2012, impor mencapai 6,2 juta ton. Ketergantungan ini menciptakan tekanan struktural terhadap upaya diversifikasi pangan berbasis lokal.
Benchmark Global
Nigeria memanfaatkan uwi sebagai penyangga utama ketahanan pangan. Produksi nasional mencapai lebih dari 37 juta ton pada 2011. Jepang, Taiwan, dan Filipina mengintegrasikan uwi ke dalam sistem pangan dan industri olahan.
Indonesia memiliki sumber daya hayati serupa. Namun tanpa strategi yang terarah, pangan lokal seperti uwi belum menjadi bagian dari arsitektur ketahanan pangan nasional.***
