GarudaGlobal.net – Tekanan krisis ekonomi memaksa Iran mengubah kebijakan subsidi energi setelah nilai rial Iran anjlok ribuan persen hingga Rabu (14/1). Di tengah kurs IRR yang menembus satu juta per dolar AS, pemerintah menerapkan skema harga bensin tiga tingkat demi menahan beban fiskal. Kebijakan ini diambil ketika inflasi domestik sudah menyentuh 42 persen.
Subsidi BBM Tak Lagi Mampu Menahan Defisit
Selama bertahun-tahun, rendahnya harga bahan bakar menjadi ciri khas ekonomi Iran. Namun ketika rial Iran runtuh, subsidi besar itu berubah menjadi beban berat bagi anggaran negara. Cadangan devisa terus menipis, sementara penerimaan dari ekspor minyak tertekan akibat sanksi internasional.
Menurut laporan AP News, sejak Desember 2025 pemerintah menerapkan sistem harga bensin tiga tingkat. Dalam aturan baru tersebut, setiap pengendara tetap memperoleh kuota 60 liter per bulan dengan harga subsidi 15 ribu rial Iran per liter. Setelah jatah habis, mereka masih bisa membeli 100 liter tambahan seharga 30 ribu IRR per liter. Untuk konsumsi di atas 160 liter, harga melonjak menjadi 50 ribu rial Iran per liter.
Sebelumnya, Iran hanya mengenal dua lapis harga bensin, yakni 15 ribu IRR untuk 60 liter pertama dan 30 ribu IRR untuk pembelian berikutnya. Perubahan ini menandai berakhirnya era subsidi murah di tengah anjloknya rial Iran.
Dampak ke Biaya Hidup dan Transportasi
Kebijakan baru langsung terasa di sektor transportasi. Tarif angkutan barang meningkat karena biaya operasional melonjak. Di pasar tradisional, pedagang mengeluhkan kenaikan ongkos distribusi yang akhirnya memaksa mereka menaikkan harga jual.
Ketika rial Iran terus melemah terhadap dolar AS dan mata uang regional, tekanan biaya tidak lagi bisa ditahan oleh subsidi. Inflasi Iran yang sudah mencapai 42 persen pada Desember 2025 semakin sulit dikendalikan, terutama untuk kebutuhan pokok seperti beras, daging, dan minyak goreng.
Krisis Fiskal di Tengah Sanksi
Runtuhnya rial Iran bukan hanya persoalan nilai tukar, tetapi juga cerminan krisis fiskal yang lebih dalam. Sanksi Barat membatasi akses Iran ke sistem keuangan global dan menekan ekspor minyak. Akibatnya, pemerintah kehilangan sumber utama devisa.
Untuk menutup defisit, kebijakan mencetak uang kembali ditempuh. Langkah ini memang memberi ruang fiskal jangka pendek, tetapi di sisi lain mempercepat depresiasi rial Iran. Lingkaran setan pun tercipta: mata uang melemah, subsidi membengkak, lalu pemerintah kembali menyesuaikan harga.
Warga di Persimpangan Sulit
Di tingkat rumah tangga, warga Iran kini menghadapi dilema. Pengeluaran bahan bakar naik, harga pangan melonjak, sementara pendapatan tetap dalam denominasi rial Iran yang nilainya terus menyusut. Banyak keluarga terpaksa mengurangi konsumsi dan menunda kebutuhan non-esensial.
Perubahan kebijakan subsidi ini memperlihatkan bagaimana runtuhnya rial Iran telah menggerus ruang gerak pemerintah. Tanpa perbaikan kondisi fiskal dan stabilitas nilai tukar, tekanan terhadap biaya hidup diperkirakan masih akan berlanjut.
