garudaglobal.net — Jombang, Di tengah diskursus global mengenai keberlanjutan sosial (social sustainability), Thoriqoh Shiddiqiyyah di Jombang, Jawa Timur, menunjukkan model efisiensi pembangunan melalui program Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah (RSLHS). Gerakan ini menarik perhatian karena kemampuannya memobilisasi sumber daya internal secara masif untuk pengentasan kemiskinan infrastruktur di berbagai wilayah Indonesia tanpa ketergantungan pada dana publik.
Secara strategis, Shiddiqiyyah mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dengan produktivitas ekonomi sosial. Program RSLHS bukan sekadar kegiatan amal (charity), melainkan implementasi dari tata kelola modal sosial yang kuat. Dengan basis doktrin “Hubbul Wathon Minal Iman”, jamaah berhasil membangun ribuan rumah secara mandiri, menciptakan dampak ekonomi langsung bagi penerima manfaat sekaligus memperkuat stabilitas sosial di tingkat akar rumput.
Efisiensi Operasional Berbasis Gotong Royong
Keunggulan model Shiddiqiyyah terletak pada efisiensi biaya konstruksi yang dicapai melalui sistem kerja sukarela yang terorganisir. Tanpa biaya upah buruh dan dengan rantai pasok material yang dikelola secara kolektif, mereka mampu menghasilkan output bangunan berkualitas tinggi. Hal ini membuktikan bahwa kepercayaan teologis dapat dikonversi menjadi energi pembangunan yang efektif dan kredibel dalam skala nasional.
Perspektif Pembangunan dan Ketahanan Nasional
Syekh Muchammad Muchtarullohil Mujtaba Mu’thi, Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah, menegaskan pentingnya kontribusi sektor non-pemerintah dalam pembangunan. “Ibadah sosial adalah wujud syukur atas kemerdekaan,” pernyataan beliau ini mencerminkan komitmen terhadap ketahanan nasional. Beliau menekankan bahwa setiap warga negara memiliki kewajiban untuk berkontribusi pada negara sebelum menuntut hak-hak pribadinya.
Pengamat sosial dan akademisi, Abd. A’la, mencatat bahwa model ini memperkuat struktur masyarakat sipil. “Ini tasawuf yang tidak lari dari dunia, tetapi membangunnya,” ungkapnya pada tahun 2025. Dari sudut pandang kebijakan publik, inisiatif ini merupakan contoh sukses dari pembangunan berbasis komunitas yang mandiri. Shiddiqiyyah berhasil membuktikan bahwa nilai-nilai tradisional dan spiritual dapat menjadi mesin penggerak modernisasi sosial yang elegan.
Dengan pendekatan yang tajam terhadap nasionalisme, Shiddiqiyyah memposisikan simbol negara sebagai bagian dari identitas spiritual korporasi jamaah. Penghormatan terhadap bendera dan lagu kebangsaan dipandang sebagai komitmen terhadap kedaulatan pasar dan kedaulatan bangsa. Inilah bentuk Neo-Sufisme yang tidak hanya berfokus pada akhirat, tetapi juga pada pencapaian indikator kesejahteraan sosial yang nyata dan terukur di Indonesia.***
