11
Mar
garudaglobal.net — Ketegangan geopolitik pasca-penutupan Selat Hormuz oleh Iran pada 28 Februari 2026 mulai memukul efisiensi perdagangan ekspor sawit Indonesia ke pasar internasional. Blokade jalur strategis ini telah menciptakan guncangan pada struktur biaya logistik dan mengancam posisi Indonesia dalam rantai pasok global ke kawasan Teluk yang bernilai miliaran dolar. Ketua DPW ALFI Lampung, Senoharto, mengungkapkan bahwa efek domino dari konflik ini telah menyebabkan pembatalan dan penangguhan kontrak pengiriman di berbagai daerah. “Banyak kontrak yang ditangguhkan. Kapal yang melewati perairan sekitar Iran enggan melakukannya,” ujar Senoharto dalam keterangannya kepada pers pada Selasa, 3 Maret 2026. Eskalasi Biaya dan Defisit Daya Saing…
