IHSG Anjlok ke 7.904, Level Psikologis 8.000 Jebol!

IHSG anjlok

garudaglobal.net – Lantai bursa Indonesia dilanda aksi jual ekstrem yang membuat IHSG anjlok hingga menembus level psikologis di bawah 8.000 pada Senin (2/2/2026). Indeks kehilangan lebih dari 410 poin dalam sekejap, mengabaikan proyeksi positif otoritas fiskal yang sebelumnya yakin pasar akan bergerak menguat.

Pelemahan Tajam di Bawah Level Pembukaan

IHSG membuka perdagangan awal pekan ini pada level 8.306, namun momentum positif tersebut langsung sirna hanya beberapa menit setelah bel pembukaan berbunyi. Tekanan jual yang merata di berbagai sektor memaksa indeks meluncur bebas tanpa perlawanan berarti dari sisi beli.

Berdasarkan data RTI, tepat pukul 10.30 WIB, posisi indeks sudah berada di level 7.919 atau terpangkas hingga 4,92 persen. Kejatuhan ini semakin dalam memasuki pukul 10.50 WIB dengan koreksi mencapai 5,07 persen ke level 7.904,52.

Jebolnya level 8.000 menjadi sinyal peringatan bagi banyak manajer investasi untuk melakukan proteksi nilai aset secara masif. Pelemahan ini mencerminkan tingginya volatilitas pasar yang mengabaikan klaim kekuatan fundamental ekonomi nasional saat ini.

Baca Juga :  Strategi ART: Indonesia Amankan Market Share di Tengah Perang Dagang Trump

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya sempat menepis potensi terjadinya kondisi bursa yang “kebakaran” di hari Senin ini. Namun, dinamika pasar pagi ini justru menampilkan grafik merah pekat yang sangat kontras dengan harapan pemerintah tersebut.

Enggak lah, pasti naik lah,” ujar Purbaya dengan penuh keyakinan pada Sabtu lalu di Wisma Danantara Indonesia. Realitas di layar monitor perdagangan menunjukkan bahwa pasar memiliki mekanisme sendiri yang tidak selalu sejalan dengan pernyataan pejabat publik.

Statistik Berdarah: 731 Saham Merah

Kedalaman koreksi kali ini terlihat dari sebaran saham yang mengalami penurunan harga secara drastis di seluruh papan perdagangan. Sebanyak 731 saham tercatat melemah, sebuah angka yang sangat dominan dibandingkan hanya 68 saham yang berhasil menguat.

Kondisi ini menegaskan bahwa fenomena IHSG anjlok terjadi secara sistemik di hampir seluruh kategori kapitalisasi pasar. Saham-saham blue chip yang biasanya menjadi penopang indeks pun tak luput dari aksi lepas aset oleh para pemodal besar.

Baca Juga :  Paradoks Likuiditas Perbankan: Rp 2.527 Triliun Kredit Gagal Terserap

Volume transaksi melonjak hingga mencapai 30,13 miliar lembar saham, menunjukkan antusiasme pelaku pasar untuk keluar dari posisi mereka. Frekuensi transaksi yang menembus 1,72 juta kali menandakan aktivitas perdagangan yang sangat sibuk namun didominasi oleh tekanan jual.

Nilai transaksi yang terkumpul mencapai Rp16,29 triliun hanya dalam sesi pertama perdagangan pagi ini. Tingginya perputaran uang di tengah jatuhnya indeks menjadi indikasi kuat adanya pergeseran sentimen besar-besaran di kalangan pemilik modal.

Menanti Pembuktian Fundamental Makro

Purbaya Yudhi Sadewa tetap memegang teguh keyakinan bahwa ekonomi Indonesia mampu tumbuh mendekati angka 6 persen tahun ini. Ia menilai bahwa gejolak pasar saat ini hanyalah dinamika sesaat yang tidak mencerminkan kondisi riil ekonomi yang ia perbaiki terus.

Mereka akan lihat ke fundamental, kan fundamental ekonominya bagus, saya perbaiki terus. Akan membaik terus ke depan,” tegasnya optimis. Menurut Purbaya, sistem internal bursa yang otomatis tetap menjamin kelancaran operasional meski ada perubahan pimpinan.

Namun, bagi para pelaku pasar, kepastian dalam jangka pendek tetap menjadi faktor krusial yang menentukan posisi portofolio mereka. Ketidaksesuaian antara narasi pemerintah dengan pergerakan harga saham menciptakan ruang ketidakpastian yang cukup lebar di mata investor.

Baca Juga :  Masuknya Ari Askhara ke Humpuss: Sinyal Strategi yang Dibaca Pasar

Pelaku pasar kini menunggu respons dari otoritas bursa dan pemerintah untuk menenangkan situasi agar tidak terjadi koreksi yang lebih liar. Langkah-langkah kebijakan yang konkret diharapkan mampu menarik kembali minat beli yang sempat hilang ditelan gelombang aksi jual pagi ini.

Volatilitas yang tinggi ini menjadi ujian berat bagi ketahanan pasar modal Indonesia di awal tahun 2026. Fokus investor kini tertuju pada penutupan sesi kedua untuk melihat apakah akan ada technical rebound atau justru pelemahan berlanjut.

By Chandra