garudaglobal.net — Ketegangan geopolitik pasca-penutupan Selat Hormuz oleh Iran pada 28 Februari 2026 mulai memukul efisiensi perdagangan ekspor sawit Indonesia ke pasar internasional. Blokade jalur strategis ini telah menciptakan guncangan pada struktur biaya logistik dan mengancam posisi Indonesia dalam rantai pasok global ke kawasan Teluk yang bernilai miliaran dolar.
Ketua DPW ALFI Lampung, Senoharto, mengungkapkan bahwa efek domino dari konflik ini telah menyebabkan pembatalan dan penangguhan kontrak pengiriman di berbagai daerah. “Banyak kontrak yang ditangguhkan. Kapal yang melewati perairan sekitar Iran enggan melakukannya,” ujar Senoharto dalam keterangannya kepada pers pada Selasa, 3 Maret 2026.
Eskalasi Biaya dan Defisit Daya Saing
Data industri menunjukkan bahwa penutupan rute utama ini memaksa kapal pengangkut menempuh jalur alternatif via perairan selatan Afrika yang memicu lonjakan biaya logistik hingga 50 persen. Kondisi tersebut diperburuk dengan kenaikan biaya pengiriman ke pasar Eropa sebesar 30 persen, yang mengancam margin keuntungan perusahaan eksportir di tengah persaingan komoditas nabati global.
Direktur Eksekutif PASPI, Dr. Tungkot Sipayung, menyoroti bahwa kenaikan harga minyak bumi yang menembus 100 dolar AS per barel akan membebani biaya produksi secara agregat. Pada 10 Maret 2026, ia memaparkan bahwa perlambatan ekonomi global akibat krisis energi ini akan menekan permintaan jangka menengah dari negara-negara importir utama CPO Indonesia.
Ancaman Efek Domino pada Industri Hulu
Hambatan pada hilir ekspor kini mulai merambat ke sektor hulu, terutama pada ketersediaan dan harga pupuk yang sangat bergantung pada pasokan energi global. Para pelaku usaha memperingatkan bahwa stagnasi pada pelabuhan-pelabuhan ekspor akan menyebabkan penumpukan stok di tangki timbun, yang pada akhirnya menekan harga beli di tingkat produsen.
Kepala Karantina Lampung, Donni Muksydayan, menyatakan bahwa potensi dampak negatif terhadap komoditas pertanian, termasuk CPO, mulai terlihat signifikan sejak awal Maret 2026. Dengan nilai pengiriman yang mencapai ratusan miliar rupiah menuju UEA dan Arab Saudi, ketidakpastian jalur pelayaran menjadi risiko finansial yang sangat serius bagi stabilitas neraca dagang.***
