Eskalasi Selat Hormuz Dorong Harga Minyak ke Level US$126 per Barel

Kapal menyebrangi Selat Hormuz

garudaglobal.net — Ketegangan militer di Selat Hormuz mencapai level baru setelah pasukan Iran melancarkan serangan terhadap tiga kapal perang Amerika Serikat pada Kamis (7/5/2026).

Insiden ini langsung mengguncang pasar energi global dengan harga minyak mentah yang melambung hingga melampaui US$126 per barel, rekor tertinggi dalam empat tahun terakhir.

Pasar bereaksi negatif terhadap risiko disrupsi jalur distribusi yang melayani 20 persen konsumsi minyak dunia serta pasokan gas alam cair (LNG) global.

“Helikopter Apache dan Seahawk menghantam enam kapal kecil Iran yang mengancam pengiriman komersial,” lapor Kepala CENTCOM, Brad Cooper, menanggapi serangan terhadap USS Truxtun dkk.

Konflik bersenjata ini tidak hanya menghantam sektor energi, tetapi juga mulai melumpuhkan rantai pasok industri manufaktur di berbagai belahan dunia secara sistemik.

Kenaikan biaya bahan baku turunan minyak bumi menyebabkan kelangkaan produk esensial mulai dari peralatan medis, bahan plastik, hingga komoditas pangan olahan di pasar internasional.

Lebih dari 1.550 kapal komersial kini terjebak di kawasan Teluk, menciptakan kerugian logistik masif yang membebani neraca perdagangan negara-negara importir minyak mentah.

Baca Juga :  Syuriyah Umumkan Zulfa Mustofa, Stabilitas PBNU Jadi Agenda Utama

“Mereka telah memilih untuk tidak menerima persyaratan kami. Kegagalan ini berita buruk bagi Teheran,” tegas Wakil Presiden AS JD Vance usai kegagalan negosiasi di Islamabad.

Ketidakpastian pasar semakin diperparah oleh laporan intelijen yang saling bertentangan mengenai sisa kapasitas militer Iran setelah Operasi Epic Fury berakhir bulan lalu.

Meski Washington mengklaim sebagian besar infrastruktur lawan hancur, data internal CIA menunjukkan Iran kemungkinan masih menyimpan 70 persen aset rudal di fasilitas bawah tanah.

Kondisi ini memaksa para pelaku ekonomi global untuk bersiap menghadapi skenario perang jangka panjang jika kesepakatan damai permanen gagal ditandatangani dalam waktu dekat.

Pemerintah dari berbagai negara kini mendesak adanya solusi diplomasi guna menghindari resesi global yang dipicu oleh tingginya biaya energi dan biaya asuransi pelayaran.

Presiden Donald Trump sendiri tetap menekan Iran dengan ancaman sanksi militer yang lebih brutal sebagai bagian dari strategi negosiasi “tekanan maksimum” miliknya.

“Kita akan mengalahkan mereka jauh lebih keras jika mereka tidak segera menandatangani kesepakatan,” ancam Trump melalui pernyataan resminya pada 8 Mei 2026.

Baca Juga :  Market Guncang: Harga Minyak Brent Melonjak 11,66 Persen Akibat Serangan Israel

Dunia usaha kini menanti langkah konkret dari kedua belah pihak untuk menstabilkan kembali Selat Hormuz demi menyelamatkan pertumbuhan ekonomi global yang kian rapuh. ***

By Eva