Pakistan Umumkan Perang Terbuka, Risiko Geopolitik Asia Selatan Meningkat

Perang Pakistan Afganistan

garudaglobal.net — Pakistan secara resmi menyatakan status “perang terbuka” melawan pemerintahan Taliban Afghanistan pada Jumat (27/2/2026), memicu guncangan keamanan serius di kawasan Asia Selatan. Langkah agresif Islamabad ini mencakup serangan udara strategis ke Kandahar dan Paktika, serta keterlibatan langsung dalam pertempuran lintas batas di sepanjang Garis Durand yang memisahkan kedua negara tersebut.

Pernyataan ini muncul menyusul kegagalan serangkaian upaya diplomasi untuk menekan Taliban agar menghentikan dukungan terhadap kelompok militan yang merongrong stabilitas Pakistan. Menteri Pertahanan Khawaja Asif menegaskan bahwa militer Pakistan telah diinstruksikan untuk memberikan respons tegas terhadap setiap bentuk agresi.

Respons Pasar Global dan Seruan Mediasi

Eskalasi militer di wilayah yang kaya akan ketegangan geopolitik ini langsung memantik reaksi dari kekuatan dunia seperti China, Rusia, dan PBB. Beijing, melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri Mao Ning, menyatakan keprihatinan mendalam atas gangguan stabilitas perbatasan. “China bersedia memainkan peran konstruktif dalam meredakan situasi,” tegas Mao Ning dalam konferensi pers rutin pada hari Jumat tersebut.

Baca Juga :  Kemitraan Strategis RI-Korea: Prabowo Amankan Investasi Digital USD 10,2 Miliar

Rusia juga menawarkan diri menjadi mediator jika kedua pihak sepakat untuk menghentikan kontak senjata dan kembali ke meja perundingan. Di tengah kekacauan ini, data korban yang belum terverifikasi menunjukkan angka yang signifikan, dengan Pakistan mengeklaim telah melumpuhkan 133 pejuang Taliban, sementara pihak Kabul mengeklaim menewaskan 55 personel militer Pakistan.

Konsekuensi Strategis di Garis Durand

Pertempuran ini menandai kegagalan total dari kebijakan “bertetangga baik” yang sebelumnya diupayakan oleh kedua negara. Juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, menyebut serangan balik mereka sebagai operasi skala besar untuk mempertahankan kedaulatan. Strategi ini dianggap sebagai tantangan langsung bagi dominasi militer Pakistan di wilayah perbatasan yang sensitif tersebut.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mendesak kedua belah pihak untuk memanfaatkan momentum Ramadan demi menahan diri. Namun, dengan pernyataan “perang terbuka” dari Islamabad, risiko konflik berkepanjangan kian nyata, mengancam jalur perdagangan dan stabilitas investasi di kawasan yang tengah berusaha bangkit secara ekonomi ini. ***

By Eva