garudaglobal.net — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengonfirmasi defisit APBN per 31 Mei 2026 membengkak menjadi Rp180,4 triliun atau setara 0,70 persen terhadap PDB akibat akselerasi penyerapan anggaran belanja yang tumbuh 34,4 persen.
Defisit tersebut melonjak hingga 763,2 persen dibandingkan realisasi periode yang sama tahun lalu sebesar Rp20,9 triliun. Langkah penyamarataan distribusi belanja sepanjang tahun fiskal menjadi pendorong utama melebarnya jarak defisit.
Meskipun laju pengeluaran bergerak agresif, tata kelola fiskal diklaim tetap berada dalam koridor aman berkat rebound performa pendapatan makro. Sektor penerimaan negara mampu memberikan bantalan likuiditas yang solid.
“Jadi APBN kita amat aman. Yang jelas, bisa kami kendalikan karena pajak dan bea cukai ada perbaikan yang signifikan,” ujar Purbaya Yudhi Sadewa di Aula Mezzanine Kemenkeu, Jakarta, Jumat, 5 Juni 2026.
Kinerja penerimaan negara secara agregat membukukan Rp1.185 triliun atau tumbuh 19,1 persen berkat kontribusi positif seluruh komponen. Sektor perpajakan memimpin koridor pendapatan dengan realisasi Rp834,4 triliun.
Indikator pemulihan ekonomi terlihat dari sektor kepabeanan dan cukai yang berbalik ke zona positif dengan mengantongi Rp123,8 triliun. Sektor ini berhasil keluar dari tekanan kontraksi berkepanjangan yang terjadi sepanjang kuartal I/2026.
Penerimaan Negara Bukan Pajak memperkuat struktur modal negara dengan realisasi sebesar Rp226,4 triliun atau tumbuh dua digit 19,9 persen. Pasokan dana non-pajak ini menjaga stabilitas arus kas di tengah tingginya realisasi belanja eksekutif.
Kesehatan neraca keuangan tercermin pada angka keseimbangan primer yang mengamankan posisi surplus sebesar Rp58,6 triliun. Hasil ini memastikan otoritas keuangan tidak melakukan penerbitan surat utang baru untuk membiayai kewajiban bunga pada bulan Mei. ***
