16
Apr
garudaglobal.net — Tragedi penembakan massal di Sekolah Menengah Ayser Çalık, Kahramanmaraş, pada 15 April 2026, telah mengekspos risiko sistemik dalam pengelolaan keamanan domestik dan pengawasan senjata api di Turki. Insiden yang merenggut sembilan nyawa ini merupakan penembakan sekolah paling mematikan dalam sejarah negara tersebut, yang terjadi hanya 28 jam setelah serangan serupa di Siverek. Kejadian ini menimbulkan pertanyaan besar bagi para pengambil kebijakan terkait efektivitas regulasi kepemilikan senjata. Meskipun Turki memiliki undang-undang senjata api yang sangat ketat, fakta bahwa pelaku berusia 14 tahun mampu mengakses lima pucuk senjata api milik ayahnya menunjukkan adanya celah dalam kepatuhan penyimpanan senjata di sektor…
