Kurs APBN Jebol: Defisit Fiskal Membengkak Dipicu Lonjakan Brent-WTI

garudaglobal.net — Postur fiskal anggaran pendapatan dan belanja negara tahun 2026 menghadapi risiko pembengkakan defisit yang serius setelah kurs rupiah ambruk ke level Rp17.612 per dolar AS pada perdagangan Jumat (15/5). Tekanan ganda ini kian memburuk seiring lonjakan harga minyak mentah dunia akibat eskalasi geopolitik di Selat Hormuz.

Kombinasi jatuhnya nilai tukar dan melambungnya komoditas energi membuat realisasi asumsi makro melesat jauh dari koridor aman yang ditetapkan pemerintah. Situasi ini memaksa para pelaku pasar dan korporasi bersiap menghadapi potensi kenaikan inflasi dari komponen biaya impor bahan baku industri.

Ketidakpastian geopolitik global kini bertransformasi menjadi ancaman langsung bagi stabilitas fiskal domestik. Pemerintah dituntut segera melakukan penyesuaian strategi anggaran guna mengamankan keberlanjutan belanja negara.

Asumsi APBN 2026 awalnya mematok kurs rupiah di level Rp16.500 per dolar AS dan harga minyak WTI sebesar 70 dolar AS per barel. Namun, realita di pasar spot mencatat terjadinya selisih harga yang sangat lebar, di mana minyak WTI kini telah menembus kisaran 101 dolar AS per barel.

Baca Juga :  Sentralisasi Ekspor Sawit Hambat Rantai Pasok dan Kepercayaan Global

Sebagai negara importir bersih minyak bumi, Indonesia harus menguras lebih banyak devisa untuk mendatangkan 1,5 juta barel minyak per hari dari luar negeri. Lonjakan harga minyak mentah jenis Brent yang mencapai 106 dolar AS per barel kian memperberat beban subsidi energi nasional.

Kondisi ini menekan ruang gerak fiskal di tengah penurunan cadangan devisa yang terus menyusut menjadi 146,2 miliar dolar AS pada akhir April lalu. Arus modal keluar dari pasar saham dan obligasi menjelang rebalancing indeks global turut mempercepat laju depresiasi mata uang domestik.

“Jika Brent bertahan di atas 110 dolar AS per barel dan arus modal asing belum pulih, rupiah bisa menguji Rp17.800 per dolar AS,” proyeksi Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede pada Selasa (5/5).

Pergerakan indeks dolar AS yang menguat tajam menembus level 99 mencerminkan peralihan masif modal global ke instrumen berisiko rendah. Investor institusional kini cenderung mengambil posisi aman dengan mengonversi portofolio berbasis rupiah ke dalam mata uang dolar.

Baca Juga :  Efisienkan Biaya Perdagangan, Indonesia Akselerasi Dedolarisasi Melalui LCT

Sikap hati-hati pelaku pasar ini diperkuat oleh ekspektasi bahwa Bank Sentral Amerika Serikat tidak akan memangkas suku bunga acuan dalam waktu dekat. Kebijakan moneter global yang restriktif ini diperkirakan bakal menahan laju pemulihan pasar keuangan negara-negara berkembang untuk jangka waktu yang lebih lama.

“Investor domestik maupun asing kini cenderung mengambil langkah aman di tengah ketidakpastian ekonomi global dan domestik, termasuk mengonversi rupiah ke dolar AS,” analisis Direktur Ekonomi Digital CELIOS Nailul Huda dalam keterangan resminya.

Pengetatan likuiditas valas ini berpotensi menaikkan beban bunga utang luar negeri baik bagi sektor publik maupun korporasi swasta. Pemerintah dituntut menyeimbangkan perlindungan daya beli domestik dengan upaya menjaga kredibilitas pengelolaan utang di mata investor global. ***

By Chandra